Berita Hawzah – Syaikh Abu Ajja, salah seorang ulama Sunni Irak, dalam webinar internasional “Syahid Sayyid Ali Husaini Khamenei; Imam Persatuan, Penyeru Al-Quds dan Syahid Ramadan Mubarak” yang diselenggarakan pada hari Senin oleh Forum Global Pendekatan Antar Mazhab Islam, menekankan, dengan merujuk pada kondisi saat ini di dunia Islam, bahwa umat Islam berada dalam fase kritis, karena kekuatan kejahatan, yang dipimpin oleh rezim Zionis, telah menargetkan umat ini dengan serangan luas.
Beliau menyatakan bahwa musuh tidak hanya berpuas diri dengan menduduki tanah dan melanggar kesucian, tetapi juga berupaya menciptakan perpecahan di antara umat Islam, dan berusaha menimbulkan konflik antar mazhab Islam, bahkan di dalam satu mazhab, agar umat Islam disibukkan dengan masalah internal dan melemah.
Menurutnya, tujuan utama dari tindakan-tindakan ini adalah menjauhkan umat Islam dari identitas universal mereka, yaitu “La Ilaha Illallah” dan “Muhammad Rasulullah”.
Syaikh Abu Ajja menegaskan: Tugas kita dalam kondisi seperti ini adalah berdiri dalam satu barisan menghadapi kedzaliman dan permusuhan, serta mengambil sikap yang jelas dalam mendukung Islam dan umat Islam. Solidaritas dengan Republik Islam Iran bukan sekadar berdiri di samping satu negara, tetapi berdiri di samping Islam, isu-isu umat Islam, dan martabat mereka. Dalam perang ini, musuh itu satu dan agresi juga satu; oleh karena itu, sikap yang terpadu harus diambil, perbedaan-perbedaan dikesampingkan, dan hati-hati didekatkan satu sama lain.
Beliau menganggap perpecahan sebagai salah satu bahaya terbesar yang dihadapi umat Islam saat ini, dan menambahkan: Ini adalah masalah yang telah diperingatkan oleh Allah SWT, dan Dia memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada tali (agama) Allah secara bersama-sama dan jangan berpecah belah; sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. Sekarang bukanlah waktu untuk perselisihan dan perhitungan, melainkan waktu untuk empati, solidaritas, dan saling tolong-menolong.
Ulama Sunni Irak ini melanjutkan: Kita harus menunaikan tugas kita dengan mengutamakan kemaslahatan umat Islam dan mengesampingkan perbedaan, serta menjaga kedudukan tokoh-tokoh terkemuka dunia Islam; karena kedudukan ini memiliki martabat Islam.
Beliau memperingatkan bahwa umat Islam tidak boleh mengikuti konspirasi Zionis yang berusaha menyesatkan umat dengan memperindah keburukan.
Syaikh Abu Ajja juga menekankan: Kita harus menghormati siapa pun yang melayani Islam dan membela isu-isu umat Islam, karena menghormati mereka adalah bagian dari penghormatan terhadap umat Islam dan tanda persatuan serta wawasan umat Islam.
Beliau menambahkan: Hal ini terwujud dengan memperingati para komandan syahid yang telah mengorbankan jiwa mereka demi membela Islam dan umat Islam; mereka yang naik ke hadirat Allah dan meninggalkan jalan yang penuh dengan kemuliaan dan kehormatan bagi kita.
Merujuk pada sebuah hadits dari Nabi Muhammad SAWW, beliau berkata: Sebagaimana Nabi bersabda, “Umat-umat akan mengerumuni kalian sebagaimana serigala mengerumuni mangsanya.” Ketika ditanya apakah jumlah umat Islam sedikit pada saat itu, Nabi menjawab bahwa jumlah mereka tidak sedikit, tetapi kelemahan akan muncul di hati mereka; kelemahan yang timbul dari cinta dunia dan ketidaksukaan terhadap jihad.
Syaikh Abu Ajja selanjutnya berharap bahwa para pemimpin baru dunia Islam dapat dengan sukses dan keteguhan memikul tanggung jawab berat untuk membela Islam dan isu-isu umat Islam.
Beliau berkata: Pertolongan Nabi Muhammad SAWW bukanlah sekadar slogan dan ucapan, melainkan tindakan nyata untuk membela agama dan isu-isu umat Islam, terutama isu Al-Quds.
Merujuk pada kedudukan Masjid Al-Aqsa, beliau berkata: Al-Quds adalah tempat suci yang kepemilikannya adalah milik umat Islam; sebagaimana Nabi Muhammad SAWW shalat di sana pada malam Isra dan Mi’raj sebagai imam para nabi, dan ini merupakan tanda kedudukan Islam Masjid Al-Aqsa.
Ulama Sunni Irak ini di akhir pernyataannya menekankan: Kita harus mengarahkan kompas kita ke arah Islam dan persatuan umat Islam. Beliau memohon kepada Allah SWT agar menetapkan kemuliaan, kemenangan, dan pertolongan bagi umat Islam, memberikan persatuan kata kepada umat Islam, menghinakan kaum musyrikin dan orang-orang zalim, memberikan taufik kepada para pemimpin umat Islam untuk melayani, serta memberikan keamanan bagi Irak dan negara-negara Muslim lainnya.
Komentar Anda